JAKARTA I RAKYATBERSUARA– Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) bersama Universitas Bung Karno (UBK) berkolaborasi dengan SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures, dan Women’s Crisis Center (WCC) Puantara menggelar preview film Suamiku, Lukaku.
Acara ini juga dilakukan sekaligus diskusi edukasi bertema “Kenali KDRT, Ajakan Berhenti Diam” di Aula Dr. Ir. Soekarno, UBK Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Hadir tokoh penting, Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfah Anshor, M.Si., Rektor UBK Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, M.Si., CEO SinemArt David S. Suwarto, Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin, S.H., M.H., serta aktor Mieke Amalia dan komedian Chika Waode.
Rektor UBK, Dr. Sri Mumpuni menekankan pentingnya film sebagai media refleksi. "Melalui film Suamiku, Lukaku kita diajak melihat realitas dengan jujur dan empati. Film bukan sekadar tontonan, tetapi media edukasi dan advokasi yang mampu menggugah kesadaran," ucap Sri dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).
Ketua Komnas Perempuan, Dr. Maria Ulfah Anshor menegaskan film ini membuka tabir kasus KDRT. “Film ini betul-betul menggambarkan situasi keseharian yang selama ini dianggap aib. Kekerasan terhadap perempuan di rumah tangga harus dihentikan," jelasnya.
Ia menambahkan, setiap tahun Komnas Perempuan menerima rata-rata 4.600 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan ideologi patriarki sebagai penyebab utama.
Sementara itu, CEO SinemArt, David S. Suwarto menjelaskan alasan mengangkat isu KDRT ke layar lebar. “Kami berharap film ini bisa memecah kesunyian, agar tidak ada lagi korban, dan para penyintas menemukan solusi," paparnya.
Dikesempatan sama, Mieke Amalia, yang pernah mengalami KDRT, berbagi pengalaman pribadi. “Sebaiknya tidak buru-buru menikah… Perempuan harus punya pekerjaan,” kata Mieke.
Hal serupa, Chika Waode juga mengungkap pengalaman KDRT psikis. “Jangan kasih 100 persen cinta kamu ke lelaki… perempuan lebih baik punya penghasilan sendiri," ujarnya.
