CIANJUR I RAKYATBERSUARA-Puluhan perempuan dari kaki Gunung Gede Pangrango berkumpul, berdiskusi, dan bersuara lantang menolak proyek panas bumi. Mereka khawatir, proyek yang diklaim ramah lingkungan justru mengancam sumber air dan ruang hidup jutaan orang.  

“Kami enggak bisa memaksakan orang. Mereka mendukung, ya, silakan. Kami tetap menjelaskan dampak buruknya,” kata Yanti, warga Kampung Pasir Cina, yang sejak 2023 bergerilya dari rumah ke rumah menyampaikan informasi tentang risiko geothermal, dikutip mongabay, Minggu (18/1/2026).

Menurutnya, perusahaan hanya menyampaikan sisi manis proyek: janji lapangan pekerjaan dan manfaat listrik. “Mereka tidak terbuka menyampaikan potensi buruk proyek panas bumi, seperti yang kerap terjadi di daerah lain,” ujarnya.  

Di Kampung Tumaritis, perempuan memasang spanduk penolakan di rumah-rumah warga

Nina menegaskan, aksi itu adalah cara menunjukkan sikap warga kepada perusahaan sekaligus publik. Ia masih ingat pernah diremehkan saat menghadang pematokan lahan proyek. 

"Ibu-ibu, mah, apaan sih teriak-teriak! Jangan nolak-nolak! Enggak punya urusan, diam aja di rumah, urusin anak,” katanya menirukan ucapan rombongan pekerja.  

Namun Nina tak gentar. “Kalau air habis (buat geothermal), perempuan akan kena,” ujarnya.  

Gerakan penolakan ini tumbuh tanpa pemimpin tunggal


Warga menyebutnya gerakan rimpang, sebuah perlawanan sosial yang menyebar, tanpa struktur hierarkis kaku, mirip cara tumbuh rimpang jahe atau lengkuas.