JAKARTA I RAKYATBERSUARA-Jakarta terus berbenah, trotoar diperlebar, taman kota ditata, gedung-gedung menjulang. 

Namun di sela ruang yang semakin rapi, masih ada denyut kecil ekonomi rakyat yang tak pernah benar-benar hilang. 

Mereka adalah pedagang cangcimen penjual kacang, kuaci, dan permen yang berjalan kaki, menawarkan dagangan sederhana di tengah arus modernisasi kota.

Potret Kehidupan

Hidayat (52), salah satu pedagang cangcimen di Matraman, Jakarta Timur, sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari dagangan kecilnya. 

Tanpa etalase, tanpa papan nama, ia mengandalkan langkah kaki dan senyum untuk menarik perhatian pembeli.

 “Kadang orang beli karena kasihan, kadang karena memang butuh,” ujarnya singkat, Rabu (14/1/2026).

Bertahan di Ruang Abu-Abu

Keberadaan pedagang cangcimen sering dianggap sebagai sisa masa lalu. Namun kenyataannya, mereka adalah aktor ekonomi yang terus beradaptasi.