PANDEGLANG I RAKYATBERSUARA– Di sebuah sekolah dasar terpencil di Kabupaten Pandeglang, Banten, seorang guru telah mengabdikan dirinya selama 17 tahun tanpa rekan pengajar. Kisah ini bukan sekadar tentang rutinitas mengajar, melainkan tentang keteguhan hati menghadapi keterbatasan.
“Sejak pertama kali ditugaskan, saya mengajar sendirian. Tidak ada guru lain yang ditempatkan di sini. Semua mata pelajaran saya tangani sendiri,” ungkap sang guru.
Sekolah yang jauh dari pusat kota ini menghadapi banyak tantangan: akses jalan sulit, fasilitas terbatas, dan minim perhatian. Namun, semangat sang guru tidak pernah surut. Ia tetap hadir setiap hari, memastikan anak-anak di pelosok tetap mendapat pendidikan layak.
“Kadang saya merasa lelah, tapi melihat semangat anak-anak datang ke sekolah, saya kembali kuat. Mereka pantas mendapatkan ilmu, meski sekolah ini sederhana,” tambahnya.
Dedikasi ini menjadi simbol perjuangan pendidikan di daerah terpencil. Selama hampir dua dekade, ia bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi penggerak semangat belajar di tengah keterbatasan.
“Harapan saya, pemerintah lebih memperhatikan sekolah-sekolah terpencil. Anak-anak di sini sama berharganya dengan anak-anak di kota,” tegasnya.***