MEDAN I REPUBLIKNEWS.NET-Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Kota Medan Sumatera Utara, kembali bekerja sama dengan King Salman Relief dari Arab Saudi, untuk menggelar operasi jantung kompleks secara gratis. Operasi Jantung Gratis ini khusus bagi pasien anak di Sumatera Utara.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, bersama Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah H Amodi meninjau langsung pelaksanaan operasi jantung tersebut pada Jumat (28/6).
Menurut data Kementerian Kesehatan, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak masih menjadi masalah besar di Indonesia. Diperkirakan, dari 4,8 juta bayi yang lahir setiap tahunnya, sekitar 0,025% atau 12 ribu anak mengalami PJB sianotik.
“Kehadiran tim dari Arab Saudi menjadikan RSUP Adam Malik, sebagai satu-satunya rumah sakit di Pulau Sumatera yang mampu melakukan operasi bedah jantung anak,” ucap Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam siaran persnya, Sabtu (29/6/2024).
Selama ini, kata dr.Siti, kasus-kasus jantung anak selalu dirujuk ke rumah sakit di Jakarta, yang menyebabkan keluarga pasien menanggung biaya tinggi, dan rumah sakit memiliki antrean panjang untuk jadwal operasi.
“Kegiatan operasi jantung khusus untuk kasus-kasus sulit oleh King Salman Relief ini, merupakan yang kedua kalinya setelah yang pertama menyasar pasien dewasa telah sukses dilaksanakan pada 20-27 Mei 2024 lalu,” jelasnya.
Menurutnya, Operasi jantung periode kedua berlangsung selama satu minggu dari 25 Juni hingga 2 Juli 2024 dengan harapan dapat menangani 30 pasien anak. Hingga 28 Juni, tercatat sudah 17 pasien anak dengan kelainan jantung bawaan yang telah menjalani operasi.
“Namun, penanganan PJB anak terkendala oleh kurangnya jumlah rumah sakit. Kemudian juga dokter bedah jantung anak di Indonesia, sehingga banyak kasus yang tidak tertangani,” katanya.
“Kapasitas dokter-dokter kita dan rumah sakit hanya dapat menangani 6.000 dari 12.000 setiap tahunnya. Jadi, ada 6.000 anak setiap tahun tidak bisa dilayani dan banyak dari mereka yang meninggal,” tutur Menkes.