DEPOK I RAKYATBERSUARA-Dalam rangkaian peringatan Hari Perempuan Internasional 2026, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Beji berkolaborasi dengan SinemArt, The Big Pictures, Tarantella Pictures, dan Women’s Crisis Center (WCC) Puantara menyelenggarakan preview film “Suamiku, Lukaku”.

Selain itu, mereka yang mayoritas dari kalangan perempuan ini, juga sekaligus mengadakan diskusi yang bertema “Film Sebagai Suara Korban, Rumah Aman Sebagai Jalan Pemulihan” pada Jumat, 23 Januari 2026 di Gedung Aisyiyah Beji, Depok.

Acara ini menghadirkan narasumber, diantaranya Ketua PCA Beji Inawati Neih, Manajer Advokasi Dompet Dhuafa Rama Adi Wibowo, Advokat WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin, S.H., M.H., Produser sekaligus Sutradara film Sharad Sharan, serta Intimacy Coordinator film Putri Ayudya.

 “Jangan KDRT dijadikan hal yang biasa, itu suatu kejahatan, harus ditindah dan kita punya hak (mendapat) perlindungan yang Insya Allah akan kita kolaborasikan dengan WCC," ucap Ketua PCA Beji, Inawati Neih.

Inawata menegaskan, bahwa perempuan juga harus bersuara dan menghapus budaya diam. “Perempuan harus bersuara, hilangkan budaya diam untuk kebaikan," tegas Inawati dalam seruannya.

Sementara itu, Rama Adi Wibowo dari Dompet Dhuafa yang turut hadir dalam diskusi tersebut, mengarakan, saat ini pihaknya sedang mendiskusikan dengan serius tentang bantuan bagi korban (kekerasan), salah satu sumber bantuan dana dari filantropi.

"Kita menekankan, bahwa fokus Dompet Dhuafa pada dukungan advokasi dan hukum bagi korban KDRT," jelas Rama.

Senada, Siti Husna Lebby Amin dari WCC Puantara mengatakan, jika rumah aman adalah tempat perlindungan sementara bagi korban kekerasan. Tempat yang aman harus menjamin keamanan tidak hanya fisik tapi juga psikis dari korban serta harus di lokasi rahasia

"Kami menekankan perlunya sistem pelaporan satu pintu dan rumah aman sebagai solusi nyata," tegas Siti.