BOGOR I REPUBLIKNEWS-ejak akhir November 2025, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh diguncang bencana ekologis berupa banjir besar dan tanah longsor. 

Gelombang air dan lumpur bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga merenggut ribuan nyawa. 

Data sementara mencatat lebih dari 1.000 orang meninggal dunia, ratusan hilang, dan ratusan ribu warga harus meninggalkan rumah mereka.  

Tragedi ini bukan sekadar catatan duka bagi Sumatra. Ia adalah peringatan keras bagi daerah lain, termasuk Kabupaten Bogor, yang kini berada di ambang ancaman serupa.  

Bogor di Ujung Tanduk

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mencatat 1.652 kejadian bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir.

“Angka ini bukan statistik biasa melainkan alarm yang menandakan Bogor berada dalam kondisi rawan,” ungkap Alpriza Saputra, Ketua BEM Universitas IPWIJA sekaligus Koordinator Isu Pendidikan BEM se-Bogor, Kamis (18/12/2025). 

Menurut Apriza, Ancaman banjir, longsor, dan bencana lain bukanlah sekadar fenomena alam. Di baliknya, ada jejak eksploitasi sumber daya yang dilegitimasi atas nama pembangunan.

“Alih fungsi hutan menjadi kawasan industri dan permukiman, penyempitan sungai akibat pembangunan tak terkendali, serta hilangnya daerah resapan air yang digantikan tambang dan beton,” jelas Apriza.