JAKARTA I RAKYAT BERSUARA-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyoroti rangkaian teror terhadap sejumlah aktivis

Menurutnya, teror ke para aktivis BEM itu mengancam kebebasan di kampus, termasuk meredam potensi gerakan mahasiswa untuk mengawal jalannya pemerintahan ke depan.

Teror ini mirip yang dialami aktivis Greenpeace dan pemengaruh media sosial akhir Desember lalu menyusul suara kritis mereka terhadap pemerintah.  

"Teror ini tidak boleh kita lihat terbatas pada kontestasi pemilihan ketua BEM namun lebih besar lagi yaitu upaya melemahkan gerakan mahasiswa yang selama ini aktif mengontrol jalannya pemerintahan," tegas Usman Hamid, Rabu (20)1/1/2026).

Usman menjelaskan, wajar apabila mahasiswa mempertanyakan dugaan adanya campur tangan negara dalam kegiatan BEM termasuk pemilihan kepengurusan mereka.  

"Kami mendesak pemerintah untuk mengusut rangkaian teror yang dialami oleh mahasiswa UI maupun yang dialami aktivis dan sejumlah pemengaruh beberapa waktu lalu," ucapnya.  

Teror ini, kadia Ia, bertujuan menciptakan efek gentar. Hal Ini berbahaya bagi kebebasan berekspresi. Karenanya, kampus seharusnya menjadi tempat aman bagi kebebasan berpikir, berkumpul dan berpendapat secara kritis, bukan dibayangi oleh atmosfer ketakutan.  

" Jika proses demokrasi kampus dicemari oleh ancaman maka ruang kebebasan akademik akan mengalami kematian pelan-pelan, dan akhirnya mematikan gerakan masyarakat," ujarnya..  

"Inisiatif Rektorat UI untuk membentuk tim investigasi tidak dapat menggantikan peran pihak berwajib untuk mengungkap pelaku dan dalang di balik teror," ymtambah Usman.