KALIMANTAN I RAKYATBERSUARA-Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan pada awal 2026.

Kondisi ini paling terasa di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Melawi, serta di Kalimantan Utara, Kabupaten Nunukan.  

Sejumlah warga mengeluhkan antrean panjang di SPBU yang tak kunjung terurai. “Kami terpaksa membeli di eceran dengan harga tembus Rp45.000 per liter. Ini sangat memberatkan,” ungkap salah seorang warga.  

Kelangkaan ini disebut-sebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kendala distribusi akibat cuaca, hingga dugaan adanya penimbunan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi. 

"Distribusi terganggu, tapi kami juga menduga ada permainan di lapangan. Pertalite dan Pertamax seolah hilang dari SPBU, sementara di eceran harganya melambung,” ujar narasumber lain.  

Fenomena ini menambah keresahan masyarakat yang bergantung pada BBM untuk aktivitas sehari-hari. 

"Pemerintah daerah bersama aparat terkait harus segera turun tangan untuk memastikan pasokan kembali normal dan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan penimbunan," pinta warga.

Pertamina Jelaskan Kelangkaan BBM di Sintang: Debit Sungai Kapuas Turun, Distribusi Terganggu

Kepala Depot Pertamina Sintang, Rizky Firmansyah, memberikan penjelasan terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kabupaten Sintang dalam beberapa hari terakhir.