JAKARTA I RAKYATBERSUARA– Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arie Sudjito, menegaskan bahwa keberadaan partai politik di Indonesia justru memperkuat barisan oligarki korup, bukan memperjuangkan kepentingan rakyat. 

Menurutnya, partai hanya menjadi “rent seeker” yang mengejar subsidi pemerintah dan keuntungan pribadi.  

“Rakyat sudah muak. Partai baru yang sekadar ingin masuk parlemen hanya mereproduksi koruptor. Mereka bukan memperjuangkan rakyat, melainkan menambah barisan oligarki,” tegas Arie dalam Focus Group Discussion (FGD) di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (14/4).  

Wakil Rektor UGM ini menilai partai politik gagal memberdayakan masyarakat. Program-program yang dijalankan tidak pernah membangun kapasitas rakyat, melainkan menjadikan mereka komoditas proyek politik.  

Arie juga menyoroti kemerosotan kualitas demokrasi akibat penyimpangan sistem. “Biaya sosial dari rapuhnya demokrasi sangat besar. Ini bukan hal sepele, karena berdampak pada strategi Indonesia ke depan. Demokrasi kita sedang mengalami kemerosotan serius,” ujarnya.  

Mendesak Konsolidasi Politik Masyarakat Sipil

Arie menekankan perlunya evaluasi besar-besaran dan konsolidasi masyarakat sipil. Gerakan sipil pasca reformasi memang sempat mendorong demokrasi, namun kini melemah karena institusi politik terlalu mentolerir praktik transaksional.  

Ia juga mengingatkan adanya reproduksi militerisasi dan liberalisasi politik yang tidak berkontribusi pada penguatan masyarakat sipil. 

"Kita dipaksa menerima demokrasi semu, sementara oligarki dan dinasti politik terus menggerogoti negara. Ironinya, ruang perlawanan rakyat kini justru muncul lewat media sosial seperti TikTok,” pungkasnya.