BOGOR I RAKYATBERSUARA– Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, kembali dilanda banjir saat musim hujan. Fenomena ini disebut warga sudah terjadi berulang sejak 2021, diduga akibat berkurangnya lahan resapan air serta luapan Sungai Cikeas dan Sungai Cisarapati.
Feri Widodo, Manajer Perlindungan WKR dan Pemulihan Ekosistem WALHI Nasional, menegaskan banjir di Cijayanti bukan sekadar akibat hujan deras. Menurutnya, tekanan pembangunan di kawasan Sentul telah mengubah hutan dan daerah resapan menjadi perumahan, vila, jalan, dan kawasan komersial.
“Kalau bahkan akses menuju kediaman Presiden bisa terendam, itu menunjukkan persoalan banjir di hulu Jabodetabek sudah struktural. Ini bukan hanya masalah warga kampung di hilir, tetapi akibat perubahan lanskap di wilayah atas,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
WALHI menilai fakta bahwa banjir semakin sering terjadi sejak beberapa tahun terakhir adalah alarm serius perubahan ekologis. Solusi banjir, kata Feri, tidak cukup dengan pengerukan sungai atau penanganan darurat.
“Yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi kawasan hulu sebagai daerah resapan, menghentikan pembangunan yang merusak, dan menata ulang tata ruang secara serius. Kalau tidak, banjir akan terus berulang, entah di jalan kampung, jalan tol, bahkan akses Presiden,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cijayanti, Ahmad Paojan, mengakui persoalan banjir tak lepas dari curah hujan tinggi dan kondisi alam. Ia menambahkan, upaya penataan lingkungan seperti pembangunan taman kota telah dilakukan, meski belum mampu mengatasi masalah secara menyeluruh.
"Terkait sedimentasi di bendungan peninggalan Belanda di Sungai Cikeas, hal itu menjadi kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), yang sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten," ujar Paojan.