RAKYATBERSUARA– Tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura dikenal sebagai salah satu hari istimewa dalam kalender Islam. Selain dianjurkan berpuasa sunnah, umat Islam di Indonesia memiliki tradisi khusus: menyantuni anak yatim. 

Tradisi ini kemudian populer dengan sebutan Lebaran Anak Yatim atau Idul Yatama. Asal-usul penyebutan ini berakar dari ajaran Rasulullah SAW yang menekankan pentingnya kasih sayang terhadap anak yatim.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman agar umat Islam berbuat baik kepada anak yatim dan kaum dhuafa. Sejak lama, masyarakat Indonesia menjadikan 10 Muharram sebagai momentum berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kehilangan orang tua.

Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan mendorong agar setiap 10 Muharram dijadikan agenda nasional untuk membebaskan anak yatim dan penyandang disabilitas dari kesulitan hidup. 

“Mari kita cintai agama dengan cara mencintai anak-anak yatim dan kelompok difabel. Siapa yang akan memperhatikan mereka kalau bukan kita,” ujarnya dalam perayaan di Kantor Kemenag Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Meski tidak ada ketentuan syariat yang menetapkan 10 Muharram sebagai hari raya resmi, istilah Lebaran Anak Yatim berkembang sebagai kearifan budaya. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial adalah bagian dari ibadah, sejalan dengan teladan Rasulullah SAW yang juga seorang yatim sejak kecil.

Asal-Usul Tradisi: Berakar dari ajaran Rasulullah SAW dan pengalaman beliau sebagai anak yatim. Keutamaan Hari Asyura: Momentum memperbanyak amal saleh, termasuk menyantuni anak yatim.

Gerakan Sosial Nasional: Dorongan Kemenag menjadikan 10 Muharram sebagai agenda kepedulian sosial.Tradisi di Indonesia: Santunan anak yatim di masjid, mushala, dan lembaga zakat setiap tahun.Makna Spiritual: Menghidupkan kasih sayang dan solidaritas umat.

Sumber: Rumah Zakat