TANGSEL I RAKYATBERSUARA– SUAKA bersama Indonesian Rohingya Society Association (IRSA), Refu+ure Indonesia, dan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar pemutaran film dokumenter When The Water Horse Seeks A New Home disertai diskusi publik, Kamis (18/6).
Acara dalam rangka memperingati World Refugee Day (WRD) yang jatuh setiap 20 Juni, berlangsung di Aula Madya Lt. 1 FISIP UIN Jakarta Kampus 2 serta daring via Zoom ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang pengungsi Rohingya.
"Film karya sutradara Andrianus Oetjoe menyoroti kisah dramatis pelayaran Rohingya melintasi Laut Andaman, sebuah perjalanan penuh kehilangan, harapan, dan ketangguhan mencari tempat aman," jelas Atika Yuanita.
Bukan Sekadar Perpisahan: Komite dan Anak SMPN 1 Gunung Putri Hadirkan Panggung Inspirasi
Usai pemutaran, diskusi publik menghadirkan perspektif lintas disiplin: Prof. Arie Afriansyah, PhD (Guru Besar Hukum Laut Internasional UI), Fikha Adelia, MSc (Dosen Sosiologi Kependudukan UIN Jakarta), serta dipandu oleh Dewi Kusumawati dari SUAKA.
"Isu Rohingya bukan sekadar soal kemanusiaan, tetapi juga menyangkut hukum internasional, kebijakan migrasi, perlindungan HAM, dan dinamika sosial di negara transit maupun tujuan," papar Atika.
Rohingya, etnik dari Myanmar yang tidak diakui kewarganegaraannya, dikategorikan PBB sebagai stateless people atau orang-orang tanpa kewarganegaraan. Kondisi ini membuat mereka kehilangan jaminan hak dasar.
"Melalui sinema dan ruang dialog, kegiatan ini diharapkan memperkuat solidaritas publik serta mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan inklusif bagi pengungsi," tutupnya.
Sebagai informasi, data UNHCR mencatat hingga April 2026 terdapat 12.261 pengungsi dari 55 negara di Indonesia, dengan Rohingya menempati jumlah terbanyak kedua setelah Afghanistan.