JAKARTA I RAKYATBERSUARA– Curah hujan ekstrem yang kian sering melanda Indonesia meningkatkan ancaman tanah bergerak dan longsor, terutama di kawasan gambut dan lempung yang memiliki daya dukung rendah. Kondisi ini menuntut pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap risiko iklim.  

Menjawab tantangan tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) menghadirkan inovasi solusi stabilisasi tanah (soil stabilization). Teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation, Jepang, yang membawa pengalaman rekayasa geoteknik dari negara dengan risiko serupa.  

Kerja sama ini merupakan bagian dari perluasan kemitraan antara SIG Group dan Taiheiyo Cement Group yang ditandatangani di Tokyo pada Januari 2026. Direktur Utama SBI, Rizki Kresno Edhie Hambali, menegaskan pentingnya fondasi adaptif dalam menghadapi dinamika iklim. 

“Perubahan iklim menuntut pendekatan konstruksi yang lebih cermat sejak tahap perencanaan tanah dasar. Inovasi stabilisasi tanah meningkatkan stabilitas struktural sekaligus memperpanjang umur layanan infrastruktur,” ujarnya, Senin (9/3/2026).  

Solusi ini terbukti lebih efisien dibanding metode konvensional seperti soil replacement dan vertical drain. Selain mempercepat waktu konstruksi, teknologi stabilisasi tanah juga mengurangi penanganan tanah berlebih, sehingga lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.  

Penerapan nyata telah dilakukan pada Tol Semarang–Solo Seksi Penggarong serta sejumlah proyek di Kalimantan, Cikarang, dan Bekasi. Hasilnya, fondasi jalan dan bangunan lebih kokoh menopang beban lalu lintas maupun aktivitas komersial, dengan risiko kerusakan struktural yang jauh lebih rendah.  

Dengan inovasi ini, SBI tidak hanya memperkuat aspek teknis, tetapi juga mendukung pembangunan rendah emisi. Fondasi yang lebih tangguh sekaligus berkelanjutan menjadi langkah nyata memperkuat ketahanan infrastruktur Indonesia di tengah perubahan iklim yang semakin dinamis.