JAKARTA I RAKATBERSUARA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimpun laporan perkembangan situasi bencana selama periode Rabu (31/12/2025) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (1/1/2026) pukul 07.00 WIB. Dalam periode tersebut tercatat sebanyak lima kejadian bencana baru, yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah akibat tingginya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Sejumlah kejadian baru dilaporkan dari beberapa provinsi. Di Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, banjir terjadi dan berdampak pada sekitar 701 kepala keluarga atau 2.180 jiwa, dengan 701 unit rumah terdampak. Kondisi mutakhir menunjukkan banjir telah surut sepenuhnya dan warga mulai kembali beraktivitas.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, banjir dilaporkan terjadi di Kabupaten Barito Timur yang berdampak pada 200 kepala keluarga atau 587 jiwa, dengan sekitar 200 unit rumah terdampak. Hingga laporan ini disusun, banjir masih belum surut. Kejadian baru juga terjadi di Kabupaten Barito Selatan dengan dampak sementara tercatat sebanyak 4.251 kepala keluarga atau 13.392 jiwa terdampak, serta 74 unit rumah terdampak. Kondisi debit air masih mengalami kenaikan dan banjir belum surut.
Kejadian baru lainnya dilaporkan dari Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Banjir berdampak pada 1.351 kepala keluarga atau 5.277 jiwa, dengan jumlah rumah terdampak sebanyak 1.351 unit. Hingga saat ini banjir masih menggenangi wilayah terdampak dengan tinggi muka air sekitar 9–70 sentimeter.
Di wilayah Indonesia timur, banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Kejadian ini berdampak pada 75 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa yang mengungsi, serta 35 unit rumah terdampak. Hujan dengan intensitas tinggi masih terus terjadi di wilayah tersebut sehingga potensi bencana susulan masih perlu diwaspadai.
Sementara itu, sejumlah kejadian bencana dengan dampak signifikan masih dalam proses penanganan dan pemutakhiran data, khususnya di Provinsi Aceh. Banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bener Meriah mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan infrastruktur, dengan akses keluar masuk wilayah masih terbatas akibat kerusakan ratusan ruas jalan. Pemerintah daerah telah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat dan BNPB terus melakukan pendampingan melalui tim gabungan.
