JAKARTA I RAKYATBERSUARA– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan memperkuat sinergi dalam melindungi hutan Indonesia dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Komitmen ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Gedung D Command Center Multi-Hazards Early Warning System (MHEWS), Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Rabu (22/4/2026).  

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan pentingnya langkah preventif menghadapi potensi karhutla yang dipicu fenomena El Nino. 

“Kami sepakat untuk menguatkan perlindungan hutan melalui upaya preventif serta kuratif, mulai dari pemasangan sensor hingga integrasi data prediksi untuk pencegahan dan pengendalian karhutla,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Data BMKG menunjukkan, per 21 April 2026 terdapat 1.777 titik api di Indonesia, dengan Riau dan Kalimantan Barat sebagai wilayah terbanyak. 

"Angka ini lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga intervensi atmosfer melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi strategi utama," jelasnya.  

Saat ini OMC dilakukan di Riau dan Kalimantan Barat untuk meningkatkan tinggi muka air tanah gambut agar lebih tahan terhadap kebakaran. 

"BMKG juga tengah berkoordinasi dengan Jambi dan Sumatra Selatan untuk program rewetting lahan gambut," katanya.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan akurasi data menjadi dasar kebijakan perlindungan hutan.