JAKARTA I REPUBLIKNEWS.NET-Setelah sebelumnya menerima kunjungan dari Negara Fiji, Badab Narkotika Nasional (BNN) RI kembali menerima study visit yang dilakukan oleh Delegasi Ministry of Women, Early Childhood and Community Wellbeing Development Sarawak, Malaysia, pada Jumat (5/7/2024).
Seperti diketahui, penanganan permasalahan narkotika di Indonesia kembali menarik perhatian negara lain. Strategi dan kebijakan yang disusun dan diimplementasikan oleh BNN sebagai leading institution dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di Indonesia.
“Hal ini diakui sebagai langkah-langkah penanganan yang holistik dan komprehensif, sehingga menjadi referensi bagi negara lain. Kemudian juga dibuktikan dengan study visit yang dilakukan negara lain ke BNN,” kata Kepala BNN RI.
Dalam pertemuan ini, Kepala BNN RI memaparkan tentang situasi dan kondisi permasalahan narkotika di Indonesia serta pendekatan-pendekatan yang dilakukan BNN guna mengatasi permasalahan tersebut. Selain itu, Kepala BNN RI juga menyampaikan salah satu strategi yang tengah gencar dilakukan BNN, yaitu penguatan wilayah perbatasan.
“Dijelaskan bahwa penguatan wilayah perbatasan, diperlukan sebab kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai pulau-pulau nusantara mencapai 85.000 km. Menjadi pintu masuk serta jalur peredaran gelap narkotika,” jelasnya.
Diketahui bahwa sebanyak 80 persen, penyelundupan narkotika dari luar negeri dilakukan melalui jalur laut. Hal ini disampaikan, mengingat perbatasan Indonesia dan Malaysia mencakup perbatasan daratan di Pulau Kalimantan dan perbatasan laut di sepanjang Selat Malaka.
