MALUKU UTARA I REPUBLIKNEWS.NET – Dalam rangka pemantauan, evaluasi, advokasi serta kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait dengan pelaksanaan penghormatan, pelindungan serta pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Komnas Disabilitas melakukan kunjungan kerja di daerah di Maluku Utara, yang diantaranya Kabupaten Halmahera Utara, Morotai dan Kota Ternate, Rabu (12/6/2024).
“Kunjungan juga dimaksud dalam rangka utamanya berkaitan dengan Pendidikan, Kesehatan, sosial, pariwisata dan pendataan. Dimana berbagai hak tersebut, saling berkaitan satu dan yang lainnya,” terang Komisioner Komnas Disabilitas, Kikin Tarigan dalam keterangannya, Kamis (13/6/2024).
SLBN Tobelo dan SLBN Morotai dalam dengar pendapat menyebutkan, bahwa kendala dan permasalahan seperti sarana dan prasarana belajar, SDM tenaga pendidik, serta biaya transportasi menjadi fakta yang harus segera mendapatkan perhatian. Marena sangat berpengaruh dalam proses belajar-mengajar, dan berdampak pada output Pendidikan di sekolah luar biasa.
“Daerah kepulauan yang daratannya dihubungkan melalui transportasi laut, memberikan beban biaya tersendiri bagi orang tua disabilitas. Disamping kebutuhan pokok lainnya yang harus terpenuhi,” jelas Kikin.
Kikin memaparkan, jika pun ada siswa SLBN di pulau yang sama, sekolah tersebut meski ditempuh dengan jalur darat, yang jauhnya Jarak tetap menjadi beban ongkos tersendiri yang harus ditanggung oleh orangtua dari siswa anak disabilitas. Sehingga berdampak pada adanya anak disabilitas yang terputus hak pendidikannya
“Para pegiat disabilitas dalam diskusinya menjelaskan tentang pengalamannya dalam membantu dan mendampingi penyandang disabilitas, yang menurutnya membutuhkan berbagai alat medis dan alat bantu disabilitas,” ujarnya.
Lanjut Kikin menjelaskan, bahwa bantuan selama ini masih minim dan dinilai kurang untuk menjangkau dan menjadi solusi bagi para penyandang disabilitas, untuk menjangkau kebutuhan penyandang disabilitas wilayah kepulauan khususnya di Maluku Utara.
“Dermaga penambat kapal tidak seluruhnya aksesibel disabilitas, hanya pada dermaga besar. Begitu pun moda transportasi lautnya yang belum layak akses bagi penyandang disabilitas, khususnya bagi ragam disabilitas fisik,” katanya
“Selain itu, juga terkait dengan pendataan disabilitas masih belum maksimal dan menyeluruh. Terrmasuk dengan ragam disabilitasnya di pulau-pulau yang tersebar di Maluku Utara,” jelasnya.