JAKARTA|repubiknews.net- China jual aset dolar dan telah mencatat rekor penjualan obligasi Amerika Serikat (AS) pada kuartal pertama tahun ini. Informasi ini diungkapkan oleh Departemen Keuangan AS, yang menunjukkan adanya pergeseran besar dari aset-aset dolar. Beijing dilaporkan telah melepas obligasi negara dan agensi senilai USD53,3 miliar, setara dengan Rp850.000 triliun, dalam tiga bulan pertama tahun ini. Pada saat yang sama, China juga meningkatkan pembelian emas dan komoditas lainnya secara signifikan.
Beberapa analis menginterpretasikan bahwa pengurangan cadangan devisa dalam bentuk dolar ini merupakan bagian dari strategi China yang lebih luas. Negara tersebut tampaknya sedang melakukan diversifikasi dari aset-aset berdenominasi dolar AS, di tengah ketegangan geopolitik yang semakin meningkat dengan Amerika Serikat.
Keputusan ini mungkin merupakan upaya untuk melindungi ekonomi mereka dari ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh konflik internasional.
Ahli ekonomi menunjukkan bahwa sanksi Barat terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina menjadi salah satu pemicu utama tindakan China. Beijing tampaknya berusaha mengurangi risiko serupa yang dapat dihadapi oleh cadangan devisanya.
Craig Shapiro, seorang penasihat makroekonomi di LaDuc Trading, berpendapat bahwa penanganan aset Rusia oleh AS dan negara-negara G7, termasuk ancaman pengambilalihan dan sanksi, telah mendorong China untuk mengurangi eksposurnya pada aset Departemen Keuangan AS agar tidak menjadi target yang sama.
Sejak dimulainya konflik Ukraina, Barat telah membekukan sekitar USD300 miliar dana pemerintah Rusia. Langkah ini menjadi peringatan bagi negara-negara lain yang memiliki cadangan devisa besar dalam bentuk dolar.
