SULTENG I REPUBLIKNEWS.NET— Focus Group Discussion (FGD) digelar Alumni Mahasiswa Insitut Pertanian Bogor (IPB) bersama petani, pengurus BUMDes, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah desa di Desa Kotanagaya Kecamatan Bolano Lambunu dan Desa Tinombala Jaya Kecamatan Ongka Malino, Sulawesi Tengah, pada 8–9 Oktober 2025.
Institut Pertanian Bogor (IPB) yang beranggotakan lima orang, dipimpin oleh Dr. nat. techn. Lukmanul Hakim Zaini (Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB), dengan Koordinator Lapangan Habib Alif Refdy, serta anggota Dyah Ayu, Febri Berutu, dan Zildjan Nasrullah.
Diskusi yang berlangsung di aula desa itu, mengungkapkan persoalan berlapis yang menggerogoti kesejahteraan petani yaitu harga komoditas yang fluktuatif, praktik tengkulak yang mengurangi nilai jual petani, maraknya pencurian panen, gangguan hama, serta infrastruktur akses yang rusak.
“Kami bekerja keras merawat kebun—kelapa, kakao, durian—tetapi nilai tambah sering hilang sebelum sampai ke kami,” ungkap salah seorang peserta FGD di Bolano Lambunu, yang merangkum keluhan umum petani sepanjang diskusi, Senin (13/10/2025).
Menurutnya, Data lapangan menunjukkan pola pemasaran yang masih dominan yaitu dari petani ke tengkulak lalu kemudian ke pengepul/perusahaan, sehingga petani hanya berinteraksi dengan tengkulak pertama dan kehilangan margin pada rantai berikutnya.
Harga di kebun vs harga di pasar: jurang yang lebar
