JAKARTA I REPUBLIKNEWS– Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) merayakan hari ulang tahungnya ke-11 pada Sabtu, 13 Desember 2025 di SCTV Tower, Jakarta dengan serangkaian kegiatan edukasi, Minggu (14/12/2025).

Dengan belajar menggunakan tengkuluk khas Jambi, preview film Suamiku, Lukaku yang menjadi pemantik diskusi berisi ajakan stop menormalisasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Perayaan HUT ke-11 KPB dilangsungkan berkolaborasi dengan SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Pictures, Women’s Crisis Center (WCC) Puantara dan Persatuan Wanita Jambi (Perwaja).

Pada sesi diskusi bertema “Stop Normalisasi KDRT Cerita Pembuatan Film Suamiku, Lukaku” pasca preview film tersebut, Produser dan Sutradara Sharad Sharan menyampaikan perkiraan penanyangan perdana film bergendre edukasi ini, yakni pada perayaan Hari Kartini di bulan April 2026.

“Saya sangat bahagia karena film ini (Suamiku, Lukaku) sudah lolos sensor, tidak ada satu pun (yang di) cut. Film ini buat edukasi, bukan buat seks, kekerasan. Ini (hal-hal) yang sudah terjadi (di masyarakat,” kata Sharad tentang argumen yang disampaikan kepada Badan Sensor Film.

Sementara Anissa Putri Ayudya yang merupakan  intimacy coordinator (IC) atau koordinator akting intimasi selama proses produksi film Suamiku, Lukaku menjelaskan tentang ruang lingkup IC dalam pembuatan film. 

Ia menekankan agar semua orang berani memberikan batasan teradap orang lain yang dapat menjadi salah satu cara mencegah kekerasan terjadi, termasuk KDRT.

Direktur WCC Puantara Siti Husna Lebby Amin dalam diskusi tersebut menyampaian walau  berbagai payung hukum, namun normalisasi terhadap KDRT masih terus terjadi di Indonesia karena undang-undang yang ada belum tersosialisasi dengan baik.

“Dari film ini pengetahuan kita tentang stop KDRT bisa kita lakukan bersama. Tapi jangan tunggu sampai terjadi baru dilaporkan, harus dilakukan pencegahan,” kata Husna.